Sampah

Dipublikasikan oleh Siti Maesaroh pada

SAMPAH?

Sempurna. Sepertinya kata itu cukup pantas disematkan untuk sebuah acara resepsi pernikahan yang tengah digelar. Pelaminan dalam nuansa pink dan warna putih aneka bunga menambah sakral suasana.

Sepasang anak manusia yang baru saja terikat dalam ikatan halal duduk di pelaminan dengan senyum sumringah. Sesekali mereka saling pandang dan melempar senyum penuh arti. Dua telapak tangan beda ukuran itu saling tertaut.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya bergabung dengan para tamu undangan yang antri untuk memberikan ucapan selamat dan doa restu.

Selamat dan do’a restu.

Ya. Kata itu mungkin terdengar lucu saat disandangkan padaku yang notabene adalah mantan dari salah seorang yang duduk di pelaminan tersebut. Lalu aku bisa apa jika pada kenyataannya takdir tak berpihak padaku.

Lima tahun menjalin hubungan bukanlah waktu yang pendek untuk saling menjajaki.

Sepasang pengantin itu langsung berdiri menyambut uluran tangan para tamu undangan. Tentu saja dengan senyum yang merekah. Suasana yang jauh berbeda dengan yang aku rasakan.

Andai salah seorang darinya adalah aku.

“Ana?” Wanita itu sedikit tertegun saat menyadari siapa yang tengah menyalaminya.

Hanya sesaat. Detik berikutnya senyum itu kembali menghiasi wajah ayu yang beberapa bulan lalu masih setia menemani mimpi dan hari-hariku.

“Selamat ya? Turut bahagia buat lo,” sahutku. Membalas senyumnya dengan perasaan entah.

Jemariku menggenggam erat telapak tangan mungil Ana yang terasa berkeringat dan sedikit dingin.

Mungkin karena pengaruh suhu ruangan. Entahlah.

“Makasih, Hanif. Kirain lo gak datang.” Kata itu dia bisikkan saat aku berkesempatan mencium pipinya kiri dan kanan.

“Mana mungkin. Memangnya selama ini adakah kata ‘nggak’ buat lo?” sahutku.

Gadis itu mengerjap. Lalu membuang pandang. Mungkinkah dia mulai bosan memandangi wajah tampan ini?

Sebelum drama ini kian berlanjut dengan adegan yang lebih menyakitkan, aku melepaskan genggaman di jemarinya. Bergeser satu langkah untuk bisa lebih dekat dengan seseorang yang mengisi tempat dimana seharusnya aku berdiri.

Dia Kurniawan. Temanku tapi bukan sahabat. Kami hanya pernah beberapa kali dipertemukan dalam satu urusan pekerjaan. Dia pun mengenal Ana karena aku.

Sejauh aku mengenalnya, dia seorang lelaki yang baik. Dan aku nggak salah. Karena saking terlalu baiknya, dia malah membantu untuk memikul tanggung jawabku sebagai kekasih Ana.

Masih segar dalam ingatan obrolan terakhirku dengan gadis itu sekitar dua bulan yang lalu mungkin.

“Hanif.”

“Ya?”

“Gue mo ngomong. Boleh gak?”

Aku terkekeh, dengan rasa tidak percaya.

“Sejak kapan sih gue larang lo ngomong, Kuda”

Gadis itu mendelik. Dia memang paling nggak suka dipanggil Kuda. Tapi justru ketidaksukaannya itu yang membuat aku makin getol dan menjadi hobi.

Kan memang gitu kadang-kadang sifat manusia, bahagia di atas penderitaan orang lain.

“Gue serius, Hanif.”

“Gue dua rius. Ngomong apa emang?”

Sesaat gadis itu terlihat ragu.

“Lo gak niat mo ngelamar gue?”

“Apa?!” Seteguk cappucino yang baru saja menyentuh tenggorokan nyaris berhamburan lagi keluar.

“Maksudnya apa nih?” sahutku setelah bisa menguasai keadaan.

“Kita sudah lima tahun lho, Nif.”

“Iya, lalu kenapa? Orang ada kok yang pacaran sampai sepuluh tahun.”

Gadis itu melengos.

“Memangnya kita mo nunggu apa lagi sih, Nif?”

Pertanyaan itu sukses membuat aku tertegun. Ya. Sebenarnya apa sih yang kami tunggu? Secara materi penghasilanku dan Ana sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami kelak.

Andai kami menikah.

“Kita kan masih muda. Kenapa harus buru-buru sih?” Hanya jawaban itu yang terpikir saat itu.

“Muda bukan berarti belum dewasa kan?”

Aku hanya diam.

“Ah sudahlah. Terserah lo,” ujar Ana. Mungkin dia merasa tidak mendapatkan kesimpulan apa pun dari diskusi yang nggak penting itu.

Dengan kesal Ana meraih tas tangannya dan berlalu meninggalkanku yang masih tertegun di kafe langganan kami.

Setelahnya terasa ada yang berbeda. Kami saling tahan gengsi. Tak ada yang ingin memulai chat duluan.

Hingga pada satu malam ….

“Hanif.” Chat pertama Ana setelah lebih satu minggu kami saling diam.

“Ya,” balasku dengan senyum tipis terukir di sudut bibir.

“Romi ngelamar gue.”

“Hahahahhahahaha.”

“Kok lo malah ngakak?” balasnya diikuti emot mendelik.

Ya siapa yang percaya coba. Dia kan pacar aku. Kenapa Romi yang ngelamar?

“Dah ah, candanya gak lucu.” Aku masih terpingkal.

“Siapa yang ngelucu?” Kali ini jawaban Ana diikuti emot mewek.

“Ana!”

“Gue minta restu lo.”

“Nyak.”

“Maafin gue.”

Aku melemparkan benda pipih itu asal setelah Ana keluar dari chat.

Apa hidup memang sebercanda itu?

“Brengsek!”

“Maaf, Nif.” Sahutan itu membuyarkan lamunanku.

Entah berapa lama aku tertegun di sana. Entah sudah berapa banyak momen itu diabaikan para pengunjung lainnya. Karena sebagian besar tamu yang hadir adalah temanku dan Ana. Mereka jadi saksi panjangnya kisah cinta kami yang nyatanya berujung perpisahan. Dan aku yakin momen ini adalah hal yang mereka tunggu.

Saat menoleh ke belakang, ternyata antrian sudah sangat panjang.

Yaaaa ampuuunnn!!

“Eh, maksud gue, selamat buat lo berdua. Jaga Ana. Dan terima kasih.”

Aku menepuk pundak laki-laki itu beberapa kali. Lantas berlalu dengan cepat. Melipir lalu pura-pura tak terjadi apa-apa.

Senyum tipis terukir di sudut bibir seiring perasaan lega. Sekarang aku tahu apa alasan aku selalu menunda.

Bosan.

Ternyata hubungan yang terjalin lama bukan membuat rasa itu kian menguat, tapi malah kian terasa hambar. Terlebih kehadiran Avonik mulai mewarnai hari-hariku belakangan ini.

Hanya saja untuk memutuskan hubungan dengan Ana, aku nggak tega. Jadi wajar kan kalau aku berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkanku dari julukan buaya darat.


2 Komentar

Ichsan · 2 November 2020 pada 5:51 pm

Ceritanyh bagus dan menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *